Minggu, 31 Agustus 2014

Penantian Langit

Berkata langit pada cahaya
akankah kelam datang terlalu cepat
hingga kaki-kaki waktu belum sempat melangkah panjang
dan mimpi belum terselesaikan

Bertanya fajar pada titik embun
apakah sunyi akan segera menghampiri
maka saat itu pula jiwa-jiwa terlelap
namun harapan belum terjawabkan

Asa itu masih ada
hanya waktu belum berpihak padanya
langit pun menunggu
dan aku masih terus mencari jawaban

Rabu, 27 Agustus 2014

Pujangga yang Terabaikan

Kepingan kasihmu perlahan menjadi abu
malam itu semakin muram
kau pujangga yang tersisihkan
kau pangeran yang terabaikan

Kau biarkan pelangi menjadi kelabu
tergores cintamu pada pecahan gelas-gelas kaca
tersudut luka itu
dan semakin merintih perih

Lupakan mawar merekah mengharapkan duri
kau tukar tawa menjadi air mata
pujangga yang terlupakan
melupakan rindu mendapatkan sendu

Kamis, 21 Agustus 2014

Kemarau Hatimu

Terdiam
mengukir lelah sifatmu
tak terasa meradang dalam
di tengah kemarau hatimu

Memaksa tuk gerimis segera turun
hingga lembah hatimu
perlahan jernih seperti titik air
di tengah kemarau hatimu

Minggu, 17 Agustus 2014

Saat Hujan Itu

Bayang itu kembali menghampiri ranah hati
mungkin kumpulan awan mendung
atau debu-debu yang di hempaskan angin
membuatmu tegap berdiri memandang pelangi

Mawar dalam beningnya kaca
meratap layu terkubur sendu
hilang
sekejap semua berlalu

Kau tak mampu merubah warna dunia
kau tak mampu meredakan amarah
saat itu
hujan menjadi badai

Pejuang Negeri

Mentari takkan lelah membiaskan senyumnya
menemani tiap jejak sang pejuang
melukiskan sejarah
untuk tanah air ini

Menghantarkan semangat kebebasan
dari tangan-tangan penjajah negeri
kokohkan niat untuk satu
meleburkan ego sempurnakan asa

Hai pejuang negeri !
tak peduli dari mana asalmu
namun kami bangga memilikimu
dengan jiwa emas kau bela negeri ini

Untuk satu
menyatu demi kemerdekaan
menyatu demi bangsa dan tanah air
menyatu untuk kami disini


: salam dari kami, Pejuang negeri

Senin, 11 Agustus 2014

Abadi Untukmu

Guratan wajah menyisir lautan sepi
terselip rindu membiaskan angan
gemuruh asa tiap hening tak bernyawa
di kedalaman samudera hatiku

Sebuah rahasia doaku dan Dia
dalam kepingan cinta menghiasi kalbu
tersematkan selalu doa untukmu
dan menjadi abadi bersinar mewarnai hari

Kau bintangku
bercahaya menemani kelam
kau mentariku
selalu ada saat bahagia dan air mata menghampiri


: untukmu, Ibu

Jumat, 08 Agustus 2014

Mata Kedamaian

Perlahan matamu berbinar
ada kedamaian dalam luka
ada kesabaran dalam air mata
disana, cahaya matamu

Melumatkan amarah
berwarna bagai pelangi
menyejukkan hati yang rapuh
memandangmu, terdapat jiwa yang terlahir kembali

Kaukah yang ku cari?
dalam sebaris doa yang mengalir tiap waktu
dalam dekapan mentari di tiap sujudku
dan dalam buaian sunyi menanti cahaya disana

Berharap Kau labuhkan hati ini
pada yang mencintaiMu
karena kesucian cinta ini
hanyalah milikMu

Senin, 04 Agustus 2014

Masih Disini

Sinar mata kerinduan
senyuman merekah menghiasi senja
tersiar rona wajah-wajah kehangatan
memeluk bulir kenangan bersama

Aku masih disini
menanti mentari yang bersembunyi di bilik hatimu
menanti bintang bersinar di raut wajahmu
menanti rintik kala gersang melanda

Aku masih disini
takkan ubah hati menanti pelangi
mencoba tetap tegak berdiri
dalam riuhan angin menghampiri

Bingkai Kelabu

Setiap air mata dan tawa
telah terkubur memecah rindu
terhempas ke langit sunyi
menyapa kelam dan kabut

Kau telah menghapus nama dan jejak kenangan
menyeka resah berganti pelangi dalam hatimu
telah menjadi bingkai kelabu
untukmu bahkan untuknya

Menghilangkan hampa menyisakan lelah
bagimu
semua itu selalu menghadirkan luka
yang tak kunjung kering