Selasa, 04 November 2014

Lukisan Nama

Ketika sebuah nama menjadi detak kerinduan
ketika suatu hujan temani mendung
ketika baris bayang itu
menghadirkan lukisan malam

Dan ketika angin
menggugurkan daun-daun bernafaskan sunyi
seolah cahayamu menulusuri alur jiwa
sentuhan bintang mendamaikan raga

Mungkinkah selalu ada
kesetiaan malam dan siang
selalu bergulir temani detik dalam hidup
mungkinkah selalu ada
kesetiaan nama itu hiasi langit dambakan rembulan

Rabu, 10 September 2014

Tentangmu Kala Itu

Tentangmu yang selalu menari di pikiranku
tentangmu yang selalu membisikkan rindu
dalam sunyiku
menyempurnakan rahasia senja kala itu

Masih tentangmu dalam diam dan kebisingan kota
bayang-bayang mengikuti tiap langkah ini
tentangmu dalam dinginnya malam
dan peluh di tengah terik sinar

Namun kini kisah sudah usai
lembaran baru takkan pernah ada
tentangmu
karena sajak cintamu pun sudah berakhir bagiku

Minggu, 31 Agustus 2014

Penantian Langit

Berkata langit pada cahaya
akankah kelam datang terlalu cepat
hingga kaki-kaki waktu belum sempat melangkah panjang
dan mimpi belum terselesaikan

Bertanya fajar pada titik embun
apakah sunyi akan segera menghampiri
maka saat itu pula jiwa-jiwa terlelap
namun harapan belum terjawabkan

Asa itu masih ada
hanya waktu belum berpihak padanya
langit pun menunggu
dan aku masih terus mencari jawaban

Rabu, 27 Agustus 2014

Pujangga yang Terabaikan

Kepingan kasihmu perlahan menjadi abu
malam itu semakin muram
kau pujangga yang tersisihkan
kau pangeran yang terabaikan

Kau biarkan pelangi menjadi kelabu
tergores cintamu pada pecahan gelas-gelas kaca
tersudut luka itu
dan semakin merintih perih

Lupakan mawar merekah mengharapkan duri
kau tukar tawa menjadi air mata
pujangga yang terlupakan
melupakan rindu mendapatkan sendu

Kamis, 21 Agustus 2014

Kemarau Hatimu

Terdiam
mengukir lelah sifatmu
tak terasa meradang dalam
di tengah kemarau hatimu

Memaksa tuk gerimis segera turun
hingga lembah hatimu
perlahan jernih seperti titik air
di tengah kemarau hatimu

Minggu, 17 Agustus 2014

Saat Hujan Itu

Bayang itu kembali menghampiri ranah hati
mungkin kumpulan awan mendung
atau debu-debu yang di hempaskan angin
membuatmu tegap berdiri memandang pelangi

Mawar dalam beningnya kaca
meratap layu terkubur sendu
hilang
sekejap semua berlalu

Kau tak mampu merubah warna dunia
kau tak mampu meredakan amarah
saat itu
hujan menjadi badai

Pejuang Negeri

Mentari takkan lelah membiaskan senyumnya
menemani tiap jejak sang pejuang
melukiskan sejarah
untuk tanah air ini

Menghantarkan semangat kebebasan
dari tangan-tangan penjajah negeri
kokohkan niat untuk satu
meleburkan ego sempurnakan asa

Hai pejuang negeri !
tak peduli dari mana asalmu
namun kami bangga memilikimu
dengan jiwa emas kau bela negeri ini

Untuk satu
menyatu demi kemerdekaan
menyatu demi bangsa dan tanah air
menyatu untuk kami disini


: salam dari kami, Pejuang negeri

Senin, 11 Agustus 2014

Abadi Untukmu

Guratan wajah menyisir lautan sepi
terselip rindu membiaskan angan
gemuruh asa tiap hening tak bernyawa
di kedalaman samudera hatiku

Sebuah rahasia doaku dan Dia
dalam kepingan cinta menghiasi kalbu
tersematkan selalu doa untukmu
dan menjadi abadi bersinar mewarnai hari

Kau bintangku
bercahaya menemani kelam
kau mentariku
selalu ada saat bahagia dan air mata menghampiri


: untukmu, Ibu

Jumat, 08 Agustus 2014

Mata Kedamaian

Perlahan matamu berbinar
ada kedamaian dalam luka
ada kesabaran dalam air mata
disana, cahaya matamu

Melumatkan amarah
berwarna bagai pelangi
menyejukkan hati yang rapuh
memandangmu, terdapat jiwa yang terlahir kembali

Kaukah yang ku cari?
dalam sebaris doa yang mengalir tiap waktu
dalam dekapan mentari di tiap sujudku
dan dalam buaian sunyi menanti cahaya disana

Berharap Kau labuhkan hati ini
pada yang mencintaiMu
karena kesucian cinta ini
hanyalah milikMu

Senin, 04 Agustus 2014

Masih Disini

Sinar mata kerinduan
senyuman merekah menghiasi senja
tersiar rona wajah-wajah kehangatan
memeluk bulir kenangan bersama

Aku masih disini
menanti mentari yang bersembunyi di bilik hatimu
menanti bintang bersinar di raut wajahmu
menanti rintik kala gersang melanda

Aku masih disini
takkan ubah hati menanti pelangi
mencoba tetap tegak berdiri
dalam riuhan angin menghampiri

Bingkai Kelabu

Setiap air mata dan tawa
telah terkubur memecah rindu
terhempas ke langit sunyi
menyapa kelam dan kabut

Kau telah menghapus nama dan jejak kenangan
menyeka resah berganti pelangi dalam hatimu
telah menjadi bingkai kelabu
untukmu bahkan untuknya

Menghilangkan hampa menyisakan lelah
bagimu
semua itu selalu menghadirkan luka
yang tak kunjung kering

Kamis, 31 Juli 2014

Sahabat Selamanya

Cahaya mentari melewati tiap sela dedaunan
jalanan beraspal dan berbata
dedaunan kering terhempas desauan angin
saksi diantara hentakan langkah ini

Gedung bertingkat ini bukanlah yang termewah
namun kemewahan selalu terpancar di tiap sudut hariku
hati yang merindu menanti senyum dan canda itu
merekah menyapa tiap waktu berlalu

Andaikan kebersamaan ini melekat dan tak pernah sirna
andaikan genggaman tangan selalu menyatu
andaikan kehangatan selalu membasuh raga ini
untuk selamanya

Jika pertemuan ini adalah kado teristimewa
jika persahabatan ini adalah bintang yang selalu bersinar
maka sahabat, kalian telah menyempurnakan
tiap detik melebur dalam tiap hari ku disini


: untuk sahabatku

Rabu, 30 Juli 2014

Rapuh

Kumpulan awan menyatu di langit suci
menunjukkan Kuasa pada jiwa yang rapuh
serpihan kenangan menguap sunyi
lelehan air mata langit menetes

Menetes dan terendap dalam retaknya kisah
air mata yang sesungguhnya
mengalir hingga mengering dalam luka
mengalir hingga tertatih lelah

Hampa menyapa
ruang kosong melanda sepi
hanya tetesan air mata itu
menggema menyelusup kalbu


: untuk seseorang wanita disana

Tunggu Aku

Senja mulai menelusuri kebisingan kota
lalu lalang manusia semakin padat
resah angin mengusik
langkah ini ku segerakan lebih cepat

Jiwaku melayang tertuju bayangmu
bisakah waktu terhenti sejenak?
hingga langit tetap terang
hingga debu-debu usik dan berlalu

Tunggu aku
sampai tanah kembali mengering
setelah derasnya curah hujan
sampai embun lahir kembali padamu

Tunggu aku
rajutan kenangan telah ku nantikan
balutan tiap helai nafasmu
mulai menggerogoti batinku

Minggu, 27 Juli 2014

Rindu

Perlahan bayang wajahmu menjadi nyata
anak panah waktu terus bergulir
hingga terdengar suara detak begitu tajam
dalam heningnya malam yang menelusup

tersadar dirimu belum tergantikan dengan sosok lain
rangkaian cerita bersamamu masih melekat dalam hati
entah sampai kapan
sampai kapan bayangmu menjaga roda waktu ini

hingga rindu ini selalu melayang tertuju padamu
rindu yang selalu ada tiap detik hariku
rindu yang tak pernah tertidur meninggalkan jejak ini
mengalun indah, mengikuti irama waktu

Cahaya Pagi

Secangkir harapan kau teguk pagi ini
sepiring semangat kau santap dengan lahap
seulas senyum kau hidangkan pada mentari cerah
membuat bayangan indah menari dalam pikiran

kau siap menata hari ini
dengan hati yang selalu terucap doa
dan tulus menjalani detik waktu yang berlalu
melangkah menyongsong impian dan cita

dengan cinta menghiasi harimu
dari Sang Maha Kuasa
dan selalu ingin menjadi cahaya
yang tak pernah padam














Pengantar Sederhana

Bismillahirrahmaanirrahiim..

melanjutkan sebuah hobi yang sempat "hilang"
menorehkan kata menjadikan sebuah makna
menyatakan isi hati
tetaplah menulis hingga dapat memberikan cahaya
bersinar dan memberi manfaat kepada orang sekitar
kala kata tak mampu terucap
kala lisan tak sanggup mengungkap
hanya dengan tulisan ini dapat ku sampaikan
sebagian hatiku, sebagian jiwaku
ketika sangat ingin menuliskan surat untuk Yang Kuasa
ketika sangat ingin menjadikan abadi
doa-doa dan harapan untuk-Mu
dan imajinasiku,kisahku,perjalanan orang lain
serta apa pun yang menjadi inspirasiku
ku harap yang di sampaikan mempunyai makna
yang dapat membuat hatimu terbawa suasana hatiku
menjadi inspirasi untuk yang lain..